
Pernah nggak sih, kamu merasa ada yang kurang adil di sekolah tapi bingung harus gimana? Atau mungkin kamu bertanya-tanya, “Sebagai siswa, sebenarnya aku punya hak apa aja sih?” Hak bisa didapatkan oleh siapapun, baik di lingkungan rumah, masyarakat dan pastinya disekolah. Nah, artikel ini bakal bahas tuntas soal hak di sekolah yang seringkali luput dari perhatian kita.
Waktu duduk di kelas 8, ada satu momen yang rasanya sepele tapi membekas. Di tengah pelajaran, seorang teman di belakang ditegur keras di depan kelas, padahal ia cuma bertanya karena tidak paham. Kelas mendadak hening, dan sejak itu hampir tidak ada yang berani bertanya lagi. Baru jauh setelah lulus, banyak yang sadar ada hak di sekolah yang saat itu sebenarnya dilanggar, tapi tidak ada yang berani bicara.
Supaya hal seperti itu tidak terus terulang, kita akan melihat tiga hak dasar yang perlu benar-benar dipahami, bukan hanya sekedar tertulis di papan mading.
Hak untuk merasa aman
Siswa berhak merasa aman, baik secara fisik maupun mental. Bukan hanya aman dari kekerasan fisik, tapi juga dari ejekan, perundungan, atau komentar merendahkan yang sering dibungkus dengan kata “bercanda”. Koridor yang ramai, grup chat kelas, bahkan pojok kantin pun termasuk ruang di mana hak disekolah ini seharusnya tetap berlaku.
Hak untuk didengar dan berpendapat
Mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan pendapat berbeda bukanlah tindakan mengganggu. Itu bagian dari proses belajar. Siswa punya hak di sekolah untuk bicara tanpa takut ditertawakan atau langsung dipotong dengan kalimat, “Sudah, jangan banyak tanya.”
Hak mendapatkan pembelajaran yang layak
Materi yang jelas, penjelasan yang bisa diikuti, tugas yang wajar, dan penilaian yang adil adalah bagian dari hak belajar. Kalau seorang siswa berkali-kali merasa tertinggal padahal sudah berusaha, ada ruang untuk bertanya dan meminta bantuan, bukan hanya menerima nilai rendah lalu dibiarkan bingung sendirian.
Yang sering terjadi, hak di sekolah hanya muncul saat ada sosialisasi singkat di awal tahun ajaran, lalu menguap begitu saja. Padahal penerapannya justru terlihat di momen-momen kecil sehari-hari.
Guru yang sengaja memberi jeda beberapa detik setelah bertanya, supaya siswa berani angkat tangan. Teman sekelas yang memilih diam ketika ingin merekam dan menyebarkan video temannya yang sedang grogi presentasi. Ketua kelas yang berani bilang, “Bu, sepertinya banyak yang belum paham,” ketika ekspresi teman-temannya jelas kebingungan.
Hal-hal kecil seperti ini membuat hak untuk aman, didengar, dan belajar dengan layak terasa nyata, bukan hanya wacana. Di sisi lain, siswa juga punya tanggung jawab: tidak menyalahgunakan hak menjadi tameng untuk bersikap seenaknya. Misalnya, berpendapat boleh, tapi tetap dengan bahasa yang sopan dan mau mendengar balik.
hak disekolah ini bukan teori rumi karena 3 dasar hak yang harus didapatkan yaitu hak untuk merasa aman, hak untuk didengar, dan hak untuk belajar dengan layak. Ketiganya saling terkait dan baru terasa kuat kalau semua pihak ikut menjaganya.
Kalau kamu masih sekolah sekarang, sesekali boleh berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah hak-hakku di sini sudah dihormati dan apakah aku juga ikut menghormati hak teman-temanku?” Dari situ, pelan-pelan, suasana belajar bisa berubah jadi lebih manusiawi dan bermakna, tidak hanya soal nilai di rapor.
