Makrab Kampus Saatnya Dekat, Akrab, dan Penuh Cerita

Makrab Kampus

Temukan mshelc.org makna dan keseruan makrab kampus, ajang kebersamaan mahasiswa baru membangun rasa keluarga dan solidaritas sejati.

Bagi banyak mahasiswa, istilah makrab kampus pasti sudah tidak asing. Biasanya, ini kepanjangan dari malam keakraban, sebuah kegiatan yang jadi tanda lahirnya momen kebersamaan pada awal masa kuliah. Tapi, lebih dari sekadar seru-seruan, makrab sebenarnya punya peran penting dalam membangun ikatan antarmahasiswa.

Bayangkan, dalam dua hari satu malam, puluhan atau bahkan ratusan mahasiswa baru berkumpul di satu tempat. Mereka bermain, belajar, makan bersama, bahkan terkadang saling curhat soal adaptasi di dunia kampus yang baru. Dari sinilah rasa kekeluargaan tumbuh.

Tujuan dan Makna di Balik Makrab

Makrab bukan sekadar agenda seremonial kampus. Ada pesan sosial dan psikologis di baliknya. Tujuannya sederhana tapi berdampak besar membangun relasi yang solid. Banyak mahasiswa awalnya canggung, belum kenal satu sama lain, tapi setelah makrab kampus, suasananya jadi cair dan hangat.

Selain itu, kegiatan ini melatih empati dan kerja sama. Misalnya, saat ada permainan kelompok atau tugas masak bersama di malam hari. Kita belajar memahami karakter teman, saling melengkapi kekurangan, dan menghargai perbedaan—hal-hal kecil yang justru membentuk fondasi kuat dalam kehidupan kampus.

Momen Tak Terlupakan dalam Makrab

Setiap makrab kampus punya cerita unik. Ada yang lucu, ada juga yang mengharukan. Biasanya, malam api unggun jadi momen paling berkesan. Cahaya api berpadu dengan dinginnya udara malam menciptakan suasana syahdu. Saat itulah banyak yang membuka diri, bercerita tentang perjuangan masuk kuliah atau harapan masa depan.

Kadang, ada juga tradisi unik di tiap kampus, seperti pemilihan kakak dan adik paling kompak atau sesi outbond yang heboh. Hal-hal sederhana seperti tertawa bersama karena kehilangan sandal di sungai bisa jadi kenangan yang sulit dilupakan.

Hubungan yang Terjalin Setelah Makrab

Menariknya, banyak persahabatan panjang lahir dari makrab kampus. Orang-orang yang tadinya hanya saling tahu nama, kini saling sapa bahkan jadi sahabat dekat. Efek sosialnya terasa jangka panjang; kerja kelompok, kegiatan organisasi, hingga tugas kelas terasa lebih mudah dijalani karena sudah ada rasa percaya sejak hari pertama.

Lebih jauh lagi, makrab juga mempertemukan mahasiswa dengan dosen atau senior dalam suasana santai. Ini menjembatani komunikasi yang biasanya kaku di ruang kelas. Kalau sudah akrab di luar kelas, mahasiswa lebih mudah bertanya dan berkembang di dalamnya.

Tips Agar Makrab Berjalan Lancar

Agar makrab kampus sukses, panitia harus punya perencanaan matang. Pilih lokasi yang mendukung kegiatan outdoor, siapkan jadwal yang seimbang antara kegiatan serius dan santai. Jangan lupakan logistik konsumsi, keamanan, dan fasilitas dasar seperti tenda atau kamar mandi.

Yang tak kalah penting, jaga suasana tetap positif. Jangan ada kegiatan yang membuat peserta merasa terintimidasi. Fokuslah pada kebersamaan dan rasa saling menghargai. Dengan begitu, pesan keakraban benar-benar terasa dan diingat.

Makrab itu bukan tentang seberapa besar acaranya, tapi seberapa dalam maknanya. Kehangatan, tawa, dan kebersamaan yang lahir di sana sering kali jadi bagian penting dari perjalanan kuliah seseorang. Dalam dunia kampus yang dinamis, momen kecil seperti ini justru menumbuhkan semangat belajar dan solidaritas yang tulus.

Jadi, kalau ada kesempatan ikut makrab kampus, jangan ragu. Nikmati setiap detiknya, karena mungkin saja, di sinilah kamu menemukan teman sehidup-semati atau bahkan keluarga kedua.

Pembentukan Karakter dan Daya Saing Dari Pelatihan Soft Skill Mahasiswa

soft skill mahasiswa

Artikel ini membahas pentingnya pelatihan soft skill mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi, karakter, dan daya saing di dunia kerja.

Ketika berbicara tentang dunia kampus, banyak yang langsung terbayang tumpukan tugas, laporan praktikum, dan proyek kelompok. Namun di antara nilai akademik dan IPK, ada satu hal yang sering terabaikan, kemampuan non teknis atau pelatihan soft skill mahasiswa.

Soft skill bukan sekadar pelengkap. Ia menentukan bagaimana seseorang berkomunikasi, memecahkan masalah, dan beradaptasi dalam tim. Banyak survei perusahaan menunjukkan bahwa recruiter lebih menghargai kepribadian proaktif dan empati tinggi daripada hanya kemampuan teknis tanpa kepemimpinan.

Apa yang Termasuk Soft Skill Esensial

Soft skill terdiri dari berbagai kemampuan dasar manusia seperti bukan teori rumit, melainkan sikap dan kebiasaan yang terbentuk dari keseharian. Dalam pelatihan soft skill mahasiswa, komponen yang sering diajarkan antara lain:

  • Komunikasi efektif, terutama dalam menyampaikan ide dengan jelas.
  • Kepemimpinan dan kerja sama tim.
  • Manajemen waktu dan pengendalian emosi.
  • Kreativitas dan pemikiran kritis.

Keterampilan seperti ini tidak didapat hanya dengan mendengarkan dosen di kelas. Ia perlu dilatih, dicoba, dan bahkan sering kali gagal dulu sebelum benar-benar dikuasai.

Cara Kampus Menyusun Program Pelatihan

Beberapa universitas sudah mulai memasukkan pelatihan soft skill mahasiswa ke dalam kurikulum resmi. Formatnya beragam, dari lokakarya interaktif hingga simulasi dunia kerja. Misalnya, simulasi wawancara kerja atau proyek kolaboratif lintas jurusan yang membuat mahasiswa belajar menghadapi karakter dan ritme kerja yang berbeda.

Pendekatan semacam ini membantu mahasiswa belajar pada konteks nyata. Mereka tidak hanya mendengar teori, tetapi juga berlatih menghadapi situasi yang menyerupai lingkungan profesional.

Tantangan dalam Pelaksanaan

Masalah klasik yang sering muncul adalah minat mahasiswa yang rendah. Banyak yang menganggap kegiatan semacam pelatihan soft skill mahasiswa tidak sepenting mata kuliah wajib. Padahal, keterampilan ini justru menjadi pondasi utama ketika mereka memasuki dunia kerja.

Selain itu, tidak semua dosen memiliki pendekatan pedagogis yang sesuai. Sebagian masih menggunakan metode ceramah pasif yang membuat peserta sulit berpartisipasi aktif. Karena itu, pelatihan perlu dirancang dengan metode yang lebih terbuka layaknya diskusi, studi kasus, atau simulasi situasi nyata.

Manfaat Nyata Setelah Mengikuti Pelatihan

Mahasiswa yang tekun mengikuti pelatihan soft skill mahasiswa biasanya menunjukkan perubahan signifikan. Mereka lebih percaya diri berbicara di depan umum, lebih tangguh dalam menghadapi kritik, dan lebih mudah bekerja sama dalam tim besar.

Selain itu, efek jangka panjangnya terlihat jelas dalam proses rekrutmen kerja. Perusahaan kini menilai aspek perilaku seperti cara berpikir positif, kemampuan negosiasi, serta inisiatif pribadi. Semua ini bagian dari soft skill yang terasah.

Langkah Mahasiswa Memulai dari Sekarang

Tidak perlu menunggu kampus mengadakan program resmi. Mahasiswa bisa memulai dari hal kecil: bergabung dalam organisasi, mengikuti kegiatan sosial, atau mengambil peran dalam proyek kelompok. Pengalaman langsung seperti itu jauh lebih berharga daripada teori tertulis semata.

Menulis laporan dengan tim yang tidak sejalan, misalnya, bisa menjadi latihan mengelola konflik. Mempresentasikan ide di depan kelas juga bagian dari latihan komunikasi. Dan tanpa terasa, kegiatan tersebut menjadi versi kecil dari pelatihan soft skill mahasiswa yang sesungguhnya.

Etika Batuk dan Bersin di Tempat Umum

etika batuk dan bersin

Pahami pentingnya etika batuk dan bersin agar tetap sopan dan menghormati orang lain di prank ojol terbaru tempat umum.

Pernah nggak kamu sedang di antrian kafe, tiba-tiba orang di depanmu batuk tanpa menutup mulut? Reaksi spontan pasti ingin mundur sedikit. Nah, inilah alasan kenapa etika batuk dan bersin jadi hal penting. Bukan cuma soal sopan santun, tapi juga bentuk penghargaan terhadap kesehatan orang lain.

Menjaga etika sederhana seperti ini ternyata bisa berdampak luas. Misalnya, saat flu atau alergi, satu percikan kecil bisa menyebarkan kuman ke orang di sekitar. Kalau setiap orang tahu cara menjaga diri saat batuk dan bersin, suasana di ruang publik pun terasa lebih aman dan nyaman.

Tutup Mulut dengan Cara yang Benar

Menutup mulut bukan sekadar formalitas. Caranya pun menentukan efektivitas. Gunakan tisu jika ada, dan buang segera ke tempat sampah. Kalau tisu tidak tersedia, tekuk siku dan arahkan wajah ke lipatan lengan bagian dalam, bukan ke telapak tangan.

Kebiasaan kecil ini membuat kita terlihat peduli dan tahu sopan santun. Dalam konteks etika batuk dan bersin, ini bentuk tanggung jawab pribadi yang sederhana tapi punya dampak besar.

Jarak Aman Itu Penting

Kadang, tanpa sadar kita batuk saat sedang berdesakan di transportasi umum atau acara ramai. Jika sempat, paling tidak geser sedikit atau arahkan tubuh ke samping. Memberi jarak 1–2 meter bisa sangat membantu.

Tindakan ini bukan berarti kamu menghindar secara berlebihan, tapi tanda kamu menghargai kenyamanan orang lain. Etika selalu tentang bagaimana kita berinteraksi dengan orang di sekitar tanpa merugikan mereka.

Jangan Lupa Cuci Tangan

Setelah batuk atau bersin, langsung cuci tangan dengan sabun. Kalau tak sempat, gunakan hand sanitizer. Ini sederhana, tapi sering diabaikan. Padahal tangan adalah media penyebar kuman paling aktif. Bisa melalui menyentuh meja, ponsel, atau pegangan pintu.

Dalam konteks etika batuk dan bersin, mencuci tangan bukan hanya kebiasaan higienis, tapi juga pesan tak tersirat bahwa kita peduli dengan kebersihan bersama.

Hindari Batuk Sembarangan di Kerumunan

Tak semua orang punya daya tahan tubuh sama. Anak-anak, lansia, atau orang dengan kondisi tertentu bisa tertular lebih mudah. Jadi kalau merasa tidak enak badan, sebaiknya batasi aktivitas di tempat ramai.

Kalau terpaksa keluar, gunakan masker. Ini bukan tanda takut, tapi bentuk kesadaran sosial. Membiasakan diri dengan etika batuk dan bersin seperti ini menunjukkan kedewasaan dan empati yang makin langka di masyarakat cepat saji ini.

Jadikan Etika Sebagai Kebiasaan, Bukan Aturan

Etika tidak harus dipaksakan lewat aturan tertulis. Ia tumbuh dari kepedulian dan kebiasaan. Setiap kali kita menutup mulut saat batuk, mencuci tangan, atau meminta maaf setelah bersin di dekat orang lain. Secara tidak langsung kita sedang menanam nilai kecil yang memperkuat budaya saling menghormati.

Ketika etika batuk dan bersin dijalankan dengan kesadaran, hasilnya bukan hanya lingkungan yang bersih, tapi juga hubungan sosial yang lebih hangat. Orang akan merasa nyaman di dekat kita. Dan itu, sebenarnya, inti dari sopan santun di tempat umum.

Manfaat Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP yang Jarang Disadari Siswa

Manfaat-Mengikuti-Kegiatan-Ekstrakurikuler

Pengalaman bergabung dalam kegiatan tertentu membantu mereka memahami sisi kepribadian sendiri. Si pendiam bisa sadar kalau ternyata ia suka tampil. Si aktif bisa belajar mendengarkan. Inilah salah satu manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sering luput disadari ialah menjadi cermin diri.

Bicara soal masa SMP, banyak yang bilang ini masa mencari jati diri, dan itu benar adanya. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa belajar mengenali apa yang mereka sukai dan kuasai. Misalnya, seorang siswa yang awalnya hanya ikut klub musik karena diajak teman bisa saja menemukan passion baru di dunia seni suara atau produksi panggung.

Melatih Tanggung Jawab dan Disiplin

Ekstrakurikuler sering kali punya jadwal latihan, rapat, atau lomba. Rutinitas semacam ini melatih siswa untuk menepati waktu dan komitmen. Mereka tidak hanya hadir, tapi juga belajar mempersiapkan diri. Entah itu membawa alat, menghafal materi, atau merancang acara.

Disiplin seperti ini terasa sederhana, namun efeknya panjang. Ketika mereka terbiasa mengatur waktu antara tugas sekolah dan kegiatan tambahan, kemampuan manajemen diri tumbuh dengan sendirinya. Itu bekal penting, bahkan di luar bangku SMP.

Belajar Bekerja Sama dalam Tim

Ada banyak kegiatan ekstrakurikuler yang mengandalkan kerja kelompok, seperti basket, paduan suara, atau teater. Berada di dalam tim artinya belajar mendengar, mendukung, dan menyesuaikan diri. Tidak semua pendapat diterima, dan tidak semua rencana mulus, tapi dari situ tumbuh rasa saling menghargai.

Itulah manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang terasa nyata. Anak-anak jadi paham makna kompromi, tanggung jawab bersama, dan tujuan kolektif. Nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar menang lomba.

Mengasah Kepercayaan Diri

Tidak semua siswa berani tampil di depan umum sejak awal. Namun lewat kegiatan seperti debat, teater, atau olahraga, mereka perlahan menemukan caranya berbicara dan berekspresi. Apalagi ketika mendapat dukungan dari teman-teman satu tim, rasa grogi bisa berubah jadi kebanggaan.

Kepercayaan diri ini biasanya merembet ke bidang lain. Saat presentasi di kelas, mereka tampil lebih tenang. Saat menghadapi ujian, mereka lebih yakin bahwa usaha tidak akan sia-sia. Begitu banyak manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, namun membangun kepercayaan diri salah satu yang paling terasa pengaruhnya.

Menumbuhkan Rasa Peduli dan Empati

Banyak kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan lingkungan sosial, seperti OSIS atau klub sosial. Di situ siswa belajar memperhatikan kebutuhan orang lain, bukan hanya dirinya sendiri. Saat membantu acara bakti sosial, misalnya, mereka belajar bahwa tindakan kecil bisa bermakna besar bagi orang lain.

Pembelajaran semacam ini jarang kita dapat dari buku teks. Ia tumbuh dari pengalaman nyata, dari interaksi, dari rasa peduli. Dan, tanpa disadari, lewat proses itu terbentuk karakter yang kuat dan berempati.

Menambah Relasi dan Pengalaman Seru

Bayangkan ikut pramuka di akhir pekan, lomba drumband antar sekolah, atau latihan persiapan pentas seni. Semua itu memberi warna baru dalam hari-hari sekolah. Teman baru, pengalaman baru, dan cerita yang bisa dikenang bertahun-tahun kemudian.

Banyak siswa justru menemukan sahabat terbaiknya di kegiatan ekstrakurikuler. Mereka tumbuh bersama, saling mendukung, bahkan kadang berkompetisi sehat. Itulah keindahan dari pengalaman berorganisasi atau berkelompok sejak SMP.

Mempersiapkan Masa Depan

Kegiatan ekstrakurikuler bukan cuma aktivitas tambahan. Ia adalah ruang latihan bagi masa depan. Keuletan, kerja sama, dan tanggung jawab yang mereka pelajari hari ini akan sangat berguna nanti di SMA, kuliah, atau dunia kerja.

Jadi, kalau ada yang bertanya apa sebenarnya manfaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, jawabannya sederhana tapi dalam kegiatan ini membentuk karakter, mengasah kemampuan sosial, dan membuka pintu untuk lebih banyak peluang di masa depan.

3 Manfaat Canva for Education  

Canva for Education

Pernah kepikiran tidak, kenapa tugas sekolah sekarang bukan cuma soal jawaban benar atau salah, tapi juga bagaimana cara siswa menyampaikan ide mereka dengan menarik? Di sinilah Canva for Education pelan-pelan mulai jadi senjata rahasia guru dan siswa di kelas. Bukan sekadar aplikasi desain, tapi jadi ruang bermain kreatif yang tetap terasa seperti belajar, hanya saja lebih seru dan visual.

Belajar Desain Tanpa Harus Jago Gambar

Pertama kali mencoba Canva for Education, banyak siswa yang biasanya takut dengan kata desain tiba-tiba jadi yang paling semangat. Waktu satu kelas diminta membuat poster kampanye lingkungan. Biasanya mereka cuma kirim teks panjang atau presentasi standar. Tapi kali ini beda. Dengan template yang sudah tersedia, mereka tinggal seret-lepas elemen, pilih warna, atur font, dan poster mereka tampak seperti buatan desainer beneran.

Dari situ kelihatan satu hal penting yakni siswa belajar dasar-dasar desain tanpa merasa sedang belajar hal teknis. Mereka jadi paham tentang komposisi, keseimbangan visual, dan cara menarik perhatian pembaca. Canva for Education membantu mereka menyusun informasi dengan rapi, memilih ikon yang pas, hingga memadukan gambar dan teks supaya pesan mereka mudah dipahami.

Pelan-pelan kemampuan visual literacy mereka terbentuk. Mereka belajar bahwa desain bukan soal mudah saja, tapi juga soal komunikatif. Saat harus membuat infografis pelajaran Biologi atau timeline sejarah, mereka mulai mikir, Bagian mana yang harus ditonjolkan? Mana yang perlu dibuat lebih besar? Mana yang cukup dijelaskan dengan ikon saja? Nah, proses berpikir seperti inilah yang sebenarnya jadi manfaat besar, meski sering tidak disadari.

Presentasi Lebih Percaya Diri dan Terstruktur

Manfaat kedua yang terasa banget dari penggunaan Canva for Education adalah peningkatan percaya diri siswa saat presentasi. Dulu, banyak yang maju ke depan kelas dengan slide penuh teks kecil-kecil. Mereka hanya membaca, bukan menjelaskan. Bedanya mulai kelihatan ketika mereka diberi tugas membuat presentasi dengan Canva.

Mereka mulai pakai slide yang simpel tapi kuat secara visual: judul besar, poin singkat, dan satu gambar pendukung. Bukannya bersembunyi di balik teks, mereka terpaksa menjelaskan dengan kata-kata sendiri. Hasilnya cukup mengejutkan: siswa yang biasanya diam jadi lebih berani bicara karena merasa ditopang oleh tampilan slide yang rapi dan menarik.

Di sisi lain, guru juga terbantu. Dengan Canva for Education, guru bisa memberi contoh struktur presentasi yang baik, lalu membagikannya sebagai template. Siswa tinggal menyesuaikan dengan materi mereka sendiri. Jadi bukan hanya soal estetika, tapi juga latihan berpikir terstruktur: pembukaan, isi, dan penutup. Visual yang tertata membuat alur presentasi mereka terasa lebih mudah diikuti teman-teman sekelas.

Kolaborasi Tugas Jadi Lebih Hidup

Yang sering terlupa, Canva for Education bukan hanya untuk kerja individu. Di beberapa tugas kelompok, siswa bisa mengedit desain yang sama secara bersama-sama. Misalnya saat membuat majalah kelas atau brosur kegiatan sekolah, mereka bisa membagi peran ada yang menulis, ada yang mencari gambar, ada yang mengatur layout.

Di sini keterampilan kolaborasi mereka terasah. Mereka harus berdiskusi tentang warna apa yang dipakai, gaya visual seperti apa yang cocok, sampai bagaimana menyatukan berbagai gaya menulis dalam satu tampilan yang konsisten. Obrolan mereka jadi lebih konkret, bukan cuma bebas saja tapi lebih baik judul pakai font tebal, biar kelihatan tegas.

Canva for Education bukan cuma soal bikin desain yang bagus, tetapi tentang membantu siswa menyampaikan ide dengan cara yang lebih kuat, terstruktur, dan kreatif. Dari belajar dasar desain, tampil lebih percaya diri saat presentasi, sampai mengasah kreativitas dan kemandirian, semuanya terfasilitasi dalam satu platform yang ramah digunakan.

Ketika siswa merasa karya mereka terlihat profesional, rasa bangga itu ikut mendorong semangat belajar mereka. Dan di titik itulah, teknologi sederhana seperti Canva for Education bisa menjadi jembatan halus antara tugas sekolah yang biasa saja dan pengalaman belajar yang benar-benar berkesan.

3 Hak di Sekolah yang Wajib Kamu Dapatkan

Hak-di-Sekolah

Pernah nggak sih, kamu merasa ada yang kurang adil di sekolah tapi bingung harus gimana? Atau mungkin kamu bertanya-tanya, “Sebagai siswa, sebenarnya aku punya hak apa aja sih?” Hak bisa didapatkan oleh siapapun, baik di lingkungan rumah, masyarakat dan pastinya disekolah. Nah, artikel ini bakal bahas tuntas soal hak di sekolah yang seringkali luput dari perhatian kita.

Waktu duduk di kelas 8, ada satu momen yang rasanya sepele tapi membekas. Di tengah pelajaran, seorang teman di belakang ditegur keras di depan kelas, padahal ia cuma bertanya karena tidak paham. Kelas mendadak hening, dan sejak itu hampir tidak ada yang berani bertanya lagi. Baru jauh setelah lulus, banyak yang sadar ada hak di sekolah yang saat itu sebenarnya dilanggar, tapi tidak ada yang berani bicara.

Supaya hal seperti itu tidak terus terulang, kita akan melihat  tiga hak dasar yang perlu benar-benar dipahami, bukan hanya sekedar tertulis di papan mading.

Hak untuk merasa aman 

Siswa berhak merasa aman, baik secara fisik maupun mental. Bukan hanya aman dari kekerasan fisik, tapi juga dari ejekan, perundungan, atau komentar merendahkan yang sering dibungkus dengan kata “bercanda”. Koridor yang ramai, grup chat kelas, bahkan pojok kantin pun termasuk ruang di mana hak disekolah ini seharusnya tetap berlaku.

Hak untuk didengar dan berpendapat 

Mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan pendapat berbeda bukanlah tindakan mengganggu. Itu bagian dari proses belajar. Siswa punya hak di sekolah untuk bicara tanpa takut ditertawakan atau langsung dipotong dengan kalimat, “Sudah, jangan banyak tanya.”

Hak mendapatkan pembelajaran yang layak 

Materi yang jelas, penjelasan yang bisa diikuti, tugas yang wajar, dan penilaian yang adil adalah bagian dari hak belajar. Kalau seorang siswa berkali-kali merasa tertinggal padahal sudah berusaha, ada ruang untuk bertanya dan meminta bantuan, bukan hanya menerima nilai rendah lalu dibiarkan bingung sendirian.

Yang sering terjadi, hak di sekolah hanya muncul saat ada sosialisasi singkat di awal tahun ajaran, lalu menguap begitu saja. Padahal penerapannya justru terlihat di momen-momen kecil sehari-hari.

Guru yang sengaja memberi jeda beberapa detik setelah bertanya, supaya siswa berani angkat tangan. Teman sekelas yang memilih diam ketika ingin merekam dan menyebarkan video temannya yang sedang grogi presentasi. Ketua kelas yang berani bilang, “Bu, sepertinya banyak yang belum paham,” ketika ekspresi teman-temannya jelas kebingungan.

Hal-hal kecil seperti ini membuat hak untuk aman, didengar, dan belajar dengan layak terasa nyata, bukan hanya wacana. Di sisi lain, siswa juga punya tanggung jawab: tidak menyalahgunakan hak menjadi tameng untuk bersikap seenaknya. Misalnya, berpendapat boleh, tapi tetap dengan bahasa yang sopan dan mau mendengar balik.

hak disekolah ini bukan teori rumi karena 3 dasar hak yang harus didapatkan yaitu hak untuk merasa aman, hak untuk didengar, dan hak untuk belajar dengan layak. Ketiganya saling terkait dan baru terasa kuat kalau semua pihak ikut menjaganya.

Kalau kamu masih sekolah sekarang, sesekali boleh berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah hak-hakku di sini sudah dihormati dan apakah aku juga ikut menghormati hak teman-temanku?” Dari situ, pelan-pelan, suasana belajar bisa berubah jadi lebih manusiawi dan bermakna, tidak hanya soal nilai di rapor.